10 Kaidah Penting dalam Menguasai Ayat-Ayat yang Mirip (Mutasyabihat)

RQ MAWHIBA September 25, 2026


Salah satu tantangan dalam menghafal Al-Qur’an adalah membedakan ayat-ayat yang memiliki kemiripan lafaz atau susunan kalimat, hal ini dikenal dengan mutasyabihat lafziyyah, yaitu ayat-ayat yang memiliki redaksi serupa tetapi berbeda pada satu atau beberapa bagian.

Kemiripan tersebut terkadang hanya berupa satu huruf, harakat, tambahan kata, atau perubahan susunan. Karena itu, penghafal membutuhkan cara untuk mengenali titik pembeda di antara ayat-ayat tersebut.

Berikut sepuluh kaidah yang dapat membantu menguatkan hafalan mutasyabihat.

1. Urutan Huruf Hijaiyah

Perbedaan ayat dapat diingat melalui urutan huruf Hijaiyah. Misalnya:

﴿أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ﴾
(Al-Baqarah: 12)

dan:

﴿أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَـٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ﴾
(Al-Baqarah: 13)

Perhatikan يَشْعُرُونَ dan يَعْلَمُونَ. Huruf ش  berada sebelum ع dalam urutan Hijaiyah. Urutan ini dapat dijadikan pengingat bahwa يَشْعُرُونَ muncul lebih dahulu.

2. Menetapkan Ayat yang Unik (Hanya satu di Seluruh Al-Qur’an)

Ayat yang memiliki redaksi unik dapat dijadikan patokan agar tidak tertukar dengan bentuk yang lebih sering berulang.

Contohnya:

﴿إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَن يَضِلُّ عَن سَبِيلِهِۦ﴾
(Al-An‘am: 117)

berbeda dengan:

﴿إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ﴾

yang terdapat di An-Nahl: 125, An-Najm: 30, dan Al-Qalam: 7. Dengan mengenali bentuk yang hanya terdapat pada satu tempat, penghafal Al-Qur’an memiliki titik pembeda yang kuat.

3. Huruf Waw Umumnya Lebih Dahulu daripada Huruf Fa

Perhatikan:

﴿وَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍ فَمَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتُهَاۖ﴾
(Al-Qashash: 60)

dan:

﴿فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَىْءٍ فَمَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَاۖ﴾
(Asy-Syura: 36)

Perbedaan awal ayat adalah وَمَا dan فَمَا. Untuk kepentingan hafalan, dapat digunakan pengingat sederhana: waw lebih dahulu daripada fa.

4. Mengaitkan Lafaz dengan Nama Surah

Nama surah dapat dijadikan jembatan hafalan.

Contohnya:

﴿وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حُسْنًا﴾
(Al-‘Ankabut: 8)

dan:

﴿وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًا﴾
(Al-Ahqaf: 15)

Kata إِحْسَانًا dapat dikaitkan dengan hamzah pada nama surah الأحقاف. Metode yang sama dapat digunakan untuk mengingat harakat. Misalnya:

﴿لَا فِيهَا غَوْلٌ وَلَا هُم عَنْهَا يُنزَفُونَ﴾
(Ash-Shaffat: 47)

dan:

﴿لَا يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَلَا يُنزِفُونَ﴾
(Al-Waqi‘ah: 19)

Bentuk يُنزَفُونَ dapat dikaitkan dengan fatḥah pada nama الصافات, sedangkan يُنزِفُونَ dengan kasrah pada الواقعة.

5. Ayat yang Letaknya Lebih Belakangan Memiliki Tambahan Kata

Contohnya:

﴿فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ ٱلَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ أَحَدٌ﴾
(Hud: 81)

dan:

﴿فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ ٱلَّيْلِ وَٱتَّبِعْ أَدْبَـٰرَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنكُمْ﴾
(Al-Hijr: 65)

Ayat dalam Al-Hijr memiliki tambahan:

وَٱتَّبِعْ أَدْبَـٰرَهُمْ

Tambahan tersebut dapat dijadikan tanda pembeda ketika melakukan murajaah.

6. Menggunakan Kalimat Bantuan

Sebagian mutasyabihat lebih mudah diingat dengan mnemonic atau kalimat bantuan.

Contohnya:

﴿يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ قَد جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ ٱلْكِتَـٰبِ﴾
(Al-Ma’idah: 15)

dan:

﴿يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ قَد جَآءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِّنَ ٱلرُّسُلِ﴾
(Al-Ma’idah: 19)

Keduanya dapat diingat dengan kalimat: “Ma khafiya kana asbaq” sesuatu yang tersembunyi disebut lebih dahulu. Kata تُخْفُونَ  menjadi kata kunci untuk ayat yang pertama.

7. Nakirah Lebih Dahulu daripada Ma‘rifah

Perhatikan:

﴿وَسَلَـٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا﴾
(Maryam: 15)

dan:

﴿وَٱلسَّلَـٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا﴾
(Maryam: 33)

Bentuk سَلَامٌ adalah nakirah, sedangkan السَّلَامُ adalah ma‘rifah. Keduanya dapat diingat dengan pola: nakirah lebih dahulu, ma‘rifah kemudian.

 

Pola serupa dapat digunakan untuk membedakan bentuk mudzakkar dan muannats, seperti:

الَّذِي ... بِهِ  (As-Sajdah: 20)

dengan:

الَّتِي ... بِهَا  (Saba’: 42)

8. Mengaitkan Tambahan Kata dengan Surah yang Lebih Panjang

Contohnya:

﴿وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِىَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ﴾
(Al-Baqarah: 136)

dan:

﴿وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ﴾
(Ali ‘Imran: 84)

Pada Al-Baqarah terdapat tambahan وَمَآ أُوتِىَ. Untuk membantu mengingatnya, tambahan tersebut dapat dikaitkan dengan surah yang lebih panjang, yaitu Al-Baqarah.

9. Mengetahui Letak Ayat pada Halaman Mushaf

Bagi pengguna Mushaf Madinah dan cetakan sejenis, posisi ayat pada halaman dapat menjadi bagian dari memori visual.

Misalnya:

﴿ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ﴾
(Thaha: 15; Al-Hajj: 7)

Letaknya di halaman sebelah kanan dari mushaf. Berbeda dengan

﴿ٱلسَّاعَةَ لَاتِيَةٌ﴾
(Al-Hijr: 85; Ghafir: 59)

Yang letaknya di halaman sebelah kiri. Dengan mengingat posisi visual ayat pada halaman, kita dapat memiliki petunjuk tambahan ketika melakukan murajaah.

10. Mengaitkan Kedekatan Lafaz dan Kesesuaian Makna

Kaidah terakhir adalah menghubungkan lafaz berdasarkan kedekatan dan kesesuaian makna. Perhatikan:

﴿وَجَآءَتْهُم رُسُلُهُم بِٱلْبَيِّنَـٰتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا﴾
(Yunus: 13)

dan:

﴿فَجَآءُوهُم بِٱلْبَيِّنَـٰتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا﴾
(Yunus: 74)

Keduanya dapat dikaitkan dengan pola:

و dengan و, dan ف dengan ف

Hubungan makna juga dapat digunakan, seperti:

﴿... وَإِن يَكُ كَـٰذِبًا ... مُسْرِفٌ كَذَّابٌ﴾
(Ghafir: 28)

dengan:

﴿... فِى شَكٍّ ... مُسْرِفٌ مُّرْتَابٌ﴾
(Ghafir: 34)

Pada ayat pertama dapat dihubungkan كَاذِبًا dengan كَذَّابٌ, sedangkan pada ayat kedua شَكٍّ dengan مُرْتَابٌ berdasarkan kedekatan makna.

 

Menguasai ayat-ayat mutasyabihat membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya pengulangan. Penghafal perlu mengenali letak perbedaan di antara ayat-ayat yang serupa, baik melalui huruf, lafaz, harakat, struktur bahasa, tambahan kata, hubungan makna, maupun posisi ayat dalam mushaf.

 

Sepuluh kaidah di atas dapat menjadi alat bantu dalam murajaah dan penguatan hafalan. Namun, kaidah tersebut bukanlah aturan mutlak yang berlaku pada seluruh ayat Al-Qur’an. Ketepatan hafalan tetap harus dikembalikan kepada mushaf, talaqqi, dan koreksi guru.

 

Bagikan:

Komentar

Komentar telah ditutup.