Akhlak Pengajar Al-Qur'an

RQ MAWHIBA September 25, 2026
Mengajarkan Al-Qur'an merupakan salah satu amal paling mulia. Namun, kemuliaan ini harus diiringi dengan adab dan akhlak yang luhur. Berikut adalah panduan penting mengenai sikap dan adab yang patut diteladani ketika mengajarkan Kalamullah.

1. Menghadap Kiblat Ketika Mengajar
Imam Muhammad bin Al-Husain rahimahullah menjelaskan bahwa sepatutnya bagi orang yang diberi ilmu Al-Qur'an oleh Allah untuk senang duduk mengajarkannya di masjid sambil menghadap kiblat. Ini mencerminkan bahwa adab lahiriah turut menjadi bagian dari bentuk penghormatan terhadap Al-Qur'an.

2. Rendah Hati dan Tidak Membeda-bedakan Murid
Seorang pengajar Al-Qur'an sangat dianjurkan untuk bersikap tawadhu (rendah hati) dalam majelisnya dan tidak menyombongkan diri di hadapan murid-muridnya. Ia harus memperlakukan setiap orang, baik kecil maupun besar, kaya maupun miskin dengan adil. Tidak pantas bagi seorang pengajar untuk melayani si kaya dengan penuh kelembutan, namun bersikap kasar terhadap si miskin. Jika hal itu terjadi, ia telah berbuat zalim.

3. Mudahkan, Jangan Mempersulit
Salah satu pesan utama bagi para pendidik tertuang dalam hadis Nabi ﷺ: "Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." Prinsip ini menjadi pedoman esensial agar proses pembelajaran Al-Qur'an terasa menyenangkan, damai, dan tidak menakutkan bagi murid.

4. Sabar Terhadap Kesalahan Murid
Ketika seorang murid keliru dalam membaca Al-Qur'an, pengajar hendaknya tidak langsung menyalahkan atau mencela dengan keras. Sebaliknya, ia harus bersabar, membimbing dengan lemah lembut, dan tidak membuat murid menjadi jera. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Ajarkanlah dan jangan mempersulit, karena seorang pengajar itu lebih baik daripada orang yang mempersulit."

5. Kedudukan Mulia Pengajar Al-Qur'an
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." Hadis masyhur ini menegaskan kembali bahwa berinteraksi dengan Al-Qur'an, khususnya mengajarkannya, adalah amal yang mendatangkan kemuliaan luar biasa bagi seorang Muslim.

6. Bahaya Menjadikan Al-Qur'an sebagai Alat Mencari Dunia
Peringatan keras juga disampaikan terkait bahaya menjadikan hafalan dan pengajaran Al-Qur'an sebagai sarana mencari keuntungan duniawi. Disebutkan bahwa barangsiapa membaca Al-Qur'an semata-mata untuk mencari makan atau keuntungan dari manusia, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan wajah yang tidak berdaging. Al-Qur'an harus senantiasa dijaga kemuliaannya dan pantang dijadikan komoditas.

7. Tiga Golongan Pembaca Al-Qur'an
Terdapat tiga karakteristik orang yang membaca Al-Qur'an: Mereka yang menjadikan Al-Qur'an sebagai "barang dagangan" dan memanfaatkannya demi kepentingan pribadi. Mereka yang hanya sekadar membaca huruf-hurufnya namun menyia-nyiakan aturan-aturannya (tidak mengamalkan isinya), atau membacanya sekadar untuk perhiasan majelis. Mereka yang membacanya di malam hari dan berpuasa di siang hari, menjaga diri dari perbuatan buruk, serta senantiasa berdoa dengan Al-Qur'an. Inilah golongan yang mulia, yang nilainya jauh lebih berharga daripada emas.

8. Menjaga Kewibawaan dan Tidak Bergantung pada Manusia
Seorang ahli dan pengajar Al-Qur'an dituntut untuk menjaga kewibawaan dengan tidak meminta-minta kepada orang lain. Dengan kemuliaan Al-Qur'an yang ada di dadanya, semestinya dialah yang menjadi rujukan orang lain. Jika memang ada kebutuhan, adalah lebih baik bila bantuan datang tanpa perlu ia memintanya.

9. Ilmu untuk Allah, Bukan untuk Dunia
Ini menjadi fondasi utama bahwa mengajarkan Al-Qur'an harus murni dilandasi niat yang ikhlas karena Allah, bukan karena mengharap imbalan duniawi.

Mengajarkan Al-Qur'an bukan sekadar mentransfer kemampuan membaca, melainkan mewariskan keteladanan akhlak. Kesabaran, kerendahan hati, keikhlasan, dan kewibawaan adalah sifat yang wajib melekat pada diri seorang pengajar. Kemuliaan Al-Qur'an harus tecermin secara nyata dalam sikap pembawanya.

Bagikan:

Komentar

Komentar telah ditutup.